Sabtu, 28 April 2018

Pramodya Ananta

PRAMOEDYA ANANTA

Kamis, 26 April 2018

8 Puisi Karya Sastrawan Tanah Air

SASTRAWAN INDONESIA 

Siapa saja sastrawan Tanah Air yang kamu kenal? Karya sastra adalah salah satu bentuk penuangan tentang kritik sosial, baik itu kepada masyarakat ataupun kepada pemerintah.
Kejadian sehari-hari adalah bahan bagi sastrawan untuk membuat karya. Bisa berupa novel, cerpen, puisi, dan lainnya.
Puisi-puisi indah dapat tercipta dari tangan mereka. Romantis lagi maknawi. Meskipun tak tahu arti sebenarnya sesuai maksud pengarang, namun kata-kata puitis itu mampu dinikmati karena begitu indah.
Berikut beberapa puisi dari sastrawan ternama Tanah Air yang bakal membuatmu klepek-klepek, dirilis brilio.net dari berbagai sumber, Senin (19/12).
1. TAPI (Sutardji Calzoum Bachri)
aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah !
sumber: orb.web.id
 2. AKU INGIN (Sapardi Djoko Damono)
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada.
sumber: curiousnarm.blogspot.co.id
 3. PUISI (Korrie Layun Rampan)
foto: Alchetron
Jalan ini berdebu, kekasih
Terbentang di padang rasa
Enam belas matahari memanah dari enam belas ufuk
Siang pun garang sepanjang kulminasi
Bahak malam mengikut pelan langkah tertatih
Ketipak bulan putih
Di taman kekasih
Pengantinku
Antara kerikil dan pasir merah
Tersembunyi jejak-jejak yang singgah
sumber: kumpulan-puisi.com
 4. KESADARAN (Armijn Pane)
Pada kepalaku sudah direka,
Mahkota bunga kekal belaka,
Aku sudah jadi merdeka,
Sudah mendapat bahagia baka.
Aku melayang kelangit bintang,
Dengan mata yang bercaya-caya,
Punah sudah apa melintang,
Apa yang dulu mengikat saya.
Mari kekasih, jangan ragu
Mencari jalan; aku mendahului,
Adinda kini
Mari, kekasih, turut daku
Terbang kesana, dengan melalui,
Hati sendiri
sumber: kumpulan-puisi.com
 5. TAMAN DUNIA (Asrul Sani)
Kau masukkan aku ke dalam taman- dunia, kekasihku !
kaupimpin jariku, kautunjukkan bunga tertawa, kuntum tersenyum.
kau tundukkan huluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi.
Kau gemalaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah.
Tercengang aku takjub, terdiam.
berbisik engkau:
"Taman swarga, taman swarga mutiara rupa".
Engkaupun lenyap.
Termanggu aku gilakan rupa.
sumber: kumpulan-puisi.com
 6. CINTAKU JAUH DI PULAU (Chairil Anwar)
foto: Wikipedia
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
sumber: kumpulan-puisi.com
 7. SAJAK PUTIH (Chairil Anwar)
foto: Wikipedia
Buat tunanganku Mirat
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di
alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…
sumber: sastrabanget.com
 8. SURAT CINTA (W.S Rendra)
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah
Wahai, Dik Narti,
aku cinta kepadamu!
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak’kan kunjung diundurkan.
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis.
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
bung-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan.
Aku melamarmu.
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
daripada yang lain….
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jarring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, Putri Duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
karena langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!
sumber: sastrabanget.com

KARYA SASTRA

CONTOH KARYA SASTRA DAN MAKNANYA 



Kepada Kawan
Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
( CHAIRIL ANWAR)
Sumber : http://was-was.com/2013/12/kumpulan-puisi-chairil-anwar-lengkap.html
Puisi itu berisi tentang ajakan untuk teman seperjuangan. Ajakan untuk terus berjuang sampai akhir. Untuk memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Dengan berani dan tanpa ragu untuk suatu keputusan yang telah diambil. Agar masalah dapat terselesaikan segera dengan baik agar tidak membuat masalah yang lain menjadi buruk.
Nilai – nilai yang dapat diambil dari puisi karya chairil anwar “Kepada Kawan” adalah untuk selalu berjuang untuk menyelesaikan masalah. Dan memutuskan siapa yang layak menjadi kawan dan siapa yang layak jadi lawan. Jangan sampai salah pilih sehingga membahayakan diri sendiri. Dan menghargai seorang sahabat karena bersama sehabatlah kita dapat melewati semua masalah. Sehabat sejati yang turut serta membawa kebaikan. Bersama berjuang dalam suka maupun duka.Kembali ke atas

Iklan

Rabu, 25 April 2018

CHAIRIL ANWAR

CHAIRIL ANWAR 










Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar Yang Sangat Menyentuh Hati dan Melegenda di Dunia


KUMPULAN PUISI KARYA CHAIRIL ANWAR 





Puisi Chairil Anwar
Deweezz.com | Puisi Chairil Anwar
Masih berbicara mengenai puisi, kalau yang sebelumnya itu ada puisi persahabatan dan puisi cinta. Nah, sekarang ini kami akan mengulas dan memberikan sebuah kumpulan puisi karya Sang Penyair Legendaris Indonesia.
Tebak coba sob siapa..?! tik..tok..tik.tok..tik..tok.. Yap betul Sob! Beliau adalah Chairil Anwar, seorang penyair tersohor di bumi Nusantara ini. Puluhan karyanya selalu mendapat apresiasi yang baik dari pembaca dan masyarakat.
Sebelum kamu menyimak kumpulan puisi-puisi karya beliau, ada baiknya kita mengenal lebih dahulu sosok Chairil Anwar itu seperti apa

Biografi Chairil Anwar

Chairil Anwar, adalah seorang penyair tersohor di bumi Nusantara ini. Beliau lahir di Kota Medan, pada tanggal 26 Juli 1922 dan meninggal di usia yang masih terbilang cukup muda, yaitu 26 tahun, pada tanggal 28 April 1949 di Jakarta.
Beliau memiliki julukan sebagai “Si Binatang Jalang”. Beliau menekuni dunia sastra, hingga tercipta sebanyak 96 karya, termasuk 70 puisi. Puisi pertamanya dipublikasi pada tahun 1942, 2 tahun setelah beliau pindah dari Medan ke Jakarta.
Banyak berbagai tema karya sastra puisi yang beliau tulis, di antaranya menyangkut pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, dan multi-intepretasi.

Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar

Puisi Chairil Anwar ‘Aku’

AKU
Kalau sampai waktuku
Aku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Puisi Chairil Anwar ‘Aku Berkaca’

AKU BERKACA
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Ku dengar seru menderu
Dalam hatiku
Apa hanya angin lalu?
Lagi lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah..!!!
Segala menebal, segala mengental
Segala tak ku kenal..!!!
Selamat tinggal…!!

Puisi Chairil Anwar ‘Diponegoro’

DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati
Puisi Chairil Anwar ‘Doa’
DOA
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Cahaya Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu Mu aku bisa mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

Puisi Chairil Anwar ‘Krawang-Bekasi’

KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan ati 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenang lah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenang lah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Puisi Chairil Anwar ‘Maju’

MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang

Puisi Chairil Anwar ‘Yang Terampas dan Yang Putus’

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku
Menggigir juga ruang di mana dia yang ku ingin
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
Dan aku bis lagi lepaskan kisah baru padamu
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku

Puisi Chairil Anwar ‘Hampa’

HAMPA
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut
Tak satu kuasa melepas renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertampik
Ini sepi terus ada. Dan menanti

Puisi Chairil Anwar ‘Senja di Pelabuhan Kecil’

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali.
Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam
Ada juga kelepak elang menyinggung muram
Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan
Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendirian.
Berjalan menyisir semenanjung
Masih pengap harap
Sekali tiba di ujung
Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat
Sedu penghabisan bisa terdekap

Puisi Chairil Anwar ‘Kepada Kawan’

KEPADA KAWAN
Sebelum ajal mendekat dan menghianat
Mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat
Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa
Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada
Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam
Layar merah berkibar hilang dalam kelam
Kawan, mari kita putuskan kini di sini
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju
Jangan tembatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat
Tidak minta ampun atas segala dosa
Tidak memberi pamit siapa saja
Jadi
Mari kita putuskan sekali lagi
Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi
Sekali lagi kawan, sebaris lagi
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu..!!

Puisi Chairil Anwar ‘Cerita Buat Dien Tamaela’

CERITA BUAT DIEN TAMAELA
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa, pohon pala,
Badan perawan jadi hidup sampai pagi tiba
Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Puisi Chairil Anwar ‘Persetujuan Dengan Bung Karno’

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo! Bung Karno kasih tangan, mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicara mu
Dipanggang di atas api mu
Digarami lautmu dari mulai tanggal 17 Agusutus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api, Aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zat mu, di zat ku kapal-kapakl kita berlayar
Di urat mu, di urat ku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

Puisi Chairil Anwar ‘Sebuah Kamar’

SEBUAH KAMAR
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia
Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu
Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu
Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu
Bapak ku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu
Sekeliling dunia bunuh diri
Aku minta adik lagi pada Ibu dan Bapak ku
Karena mereka berada di luar hitungan
Kamar begini 3 x 4 terlalu sempit buat meniup nyawa

Puisi Chairil Anwar ‘Rumahku’

RUMAHKU
Rumah ku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah ku dirikan ketika senja kala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumah ku dari unggun timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi
Tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

Puisi Chairil Anwar ‘Sajak Putih’

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi
Malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita mati datang tidak membelah
***

karya 9 penulis yang mendunia

9 Penulis Indonesia yang karyanya bisa sampai mendunia, inspiratif!

Brilio.net - Indonesia banyak melahirkan orang-orang hebat, bahkan dikenal luas di dunia. Kalau di dunia otomotif ada Christian Lesmana, Wahyu Lusuma Danny, Mark Yoshua Wijaya, dan Didit Hediprasetyo, kalau di dunia tulis menulis juga banyak melahirkan sosok-sosok nggak keren.

Bahkan bukan cuma dikagumi di dalam negeri, penulis-penulis berikut juga sudah dikenal luas di dunia. Karya mereka sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing dan mendapat beberapa penghargaan dari negara lain.

Memangnya siapa saja mereka?

Nah, berikut 9 penulis Indonesia yang karyanya mendunia dihimpun brilio.net dari berbagai sumber, Selasa (17/11):

1. Pramoedya Ananta Toer
foto: muhammadharir.deviantart.com

Pramoedya Ananta Toer adalah penulis yang karyanya sudah lebih dari 50 buku dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Sosoknya kontroversial dan banyak dipuji di kalangan penulis, namun banyak pula yang kurang suka karena pandangan ideologinya yang berbeda dengan lainnya.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah Tetralogi Pulau Buru. Empat novel tersebut ditulis ketika ia tengah menjalani masa tahanan di Pulau Buru selama 10 tahun. Pada masa Orde Baru, karya-karya Pram ini sempat dilarang oleh pemerintah. Namun akhirnya Pram banyak mendapat penghargaan dari luar negeri, di antaranya Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988, Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989, dan Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995.

2. Suwarsih Djojopuspito
foto: www.tokopedia.com

Suwarsih Djojopuspito adalah penulis novel dalam tiga bahasa yakni Sunda, Belanda, dan Indonesia. Penulis wanita ini lahir di Cibatok, Bogor, 21 April 1912 dan meninggal di Yogyakarta, 24 Agustus 1977. Karyanya yang paling terkenal adalah Manusia Bebas yang dalam bahasa Belanda menjadi Buitenj het Gareel.

3. Taufiq Ismail
foto: id.wikipedia.org

Taufiq Ismail adalah penyair dan sastrawan yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1995. Sajak-sajaknya banyak dinyanyikan oleh grup musik Bimbo. Karya-karyanya telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa di antaranya Inggris dan Rusia. Ia pernah mendapat Anugerah Seni dari pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), dan South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994).

4. Mochtar Lubis
foto: en.wikipedia.org

Mochtar Lubis adalah penulis dan jurnalis Indonesia yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Karya novelnya antara lain adalah Tidak Ada Esok, Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Tanah Gersang, Harimau! Harimau!, dan Maut dan Cinta yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Mochtar Lubis sempat mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award (1950) dan World Association of Newspapers' Golden Pen of Freedom Award (1967).

5. Ahmad Tohari
foto: www.persma-agrica.com

Kamu pernah nonton film Sang Penari? Adalah Ahmad Tohari penulis novelnya. Mulanya karyanya itu berjudul Ronggeng Dukuh Paruk yang kemudian difilmkan dengan judul Sang Penari tersebut. Lelaki kelahiran 13 Juni 1948 ini tinggal di Banyumas, Cilacap, Jawa Tengah. Selain Ronggeng Dukuh Paruk, karyanya yang terkenal ialah Kubah, Bekisar Merah, dan Orang-orang Proyek. Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam Bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award. Kemudian sekitar tahun 2007 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Rancage.

6. NH Dini
foto: radiobuku.com

Penulis feminis ini terlahir dengan nama Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin di Semarang, 29 Februari 1936. Ia telah menghasilkan puluhan buku dan beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Penghargaan yang pernah diraihnya antara lain adalah SEA Write Award di bidang sastra. Karyanya yang terkenal yakni Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), dan Pertemuan Dua Hati (1986).

7. Andrea Hirata
foto: andrea-hirata.com

Andrea Hirata adalah penulis fenomenal Laskar Pelangi yang lahir di Belitung, 24 Oktober 1967. Karyanya yang terkenal antara lain Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Kaprov. Novel Laskar Pelangi yang telah melambungkan namanya itu telah tersebar hingga ke 20 negara asing. Andrea mengantongi penghargaan pemenang dalam Festival Buku New York 2013 kategori fiksi dan menerima Kehormatan Doctor of Letters  (Hon DLitt) dari University of Warwick, Inggris 2015.

8. Eka Kurniawan
foto: islandsofimagination.id

Eka Kurniawan adalah seorang penulis yang lahir di Tasikmalaya, 28 November 1975. Novelnya yang paling fenomenal adalah Cantik Itu Luka yang pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Jendela (2002). Novel tersebut telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Jepang oleh Ribeka Ota dengan judul Bi wa Kizu dan dalam Bahasa Inggris oleh Annie Tucker dengan judul Beauty is a wound.

9. Ayu Utami
foto: www.facebook.com

Ayu Utami adalah penulis perempuan Indonesia yang lahir di Bogor, 21 November 1968. Hingga kini ia telah menulis 10 novel dan kumpulan esai. Novelnya, "Saman" membawanya menjadi peraih Prince Claus Award dari Belanda (2000).